Senin, 24 Agustus 2015

Cenningrara dapat Jodoh

CENNING RARA DAPAT JODOH

(Tulisan ini lahir dari dialog Orang Tua Yang Sudah Berumur Kurang Lebih 100 Tahun)

Mencari pasangan hidup memang bukan perkara mudah. Kata orang, susah-susah gampang. Beragam taktik dimainkan- pun beragam cara dilakukan, untuk menemukan “dia” sang belahan jiwa. Satu diantaranya cenningrara, sebuah cara yang biasa ditempuh para gadis sejak lampau di tanah bugis.

Siapa yang ingin hidup melajang selamanya. Telat jodoh saja sudah membuat kegelisahan luar biasa, tidak saja pada yang bersangkutan tapi juga pada keluarga. Apalagi bagi sang perempuan, tidak seorang pun ingin dicap “lolobangko” atau perawan tua atau yang lebih menakutkan lagi menyandang predikat gadis seumur hidup.

Untuk itu, pembenahan diri dengan berusaha tampil paripurna kerap dilakukan. Bagi perempuan masa kini, spa dengan rangkaian perawatannya mungkin telah menjadi menu wajib. Sementara itu, bagi sebagian dara bugis, mereka telah mengantongi warisan leluhur yang diyakini dapat membuat penampilan lebih menarik dalam keseharian. Resep mujarab itu bernama “cenningrara”.

Dalam sejarahnya, cenningrara adalah prosesi untuk mengeluarkan aura dari dalam diri, sehingga telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa dengan menggunakan cenningrara akan mendatangkan jodoh lebih mudah.

Cenningrara sendiri berasal dari kata cenning yang berarti manis dan cendra atau cendrara yang berarti bulan atau matahari yang pada hakekatnya adalah cahaya. Apalagi bulan dalam konteks kebudayaan Bugis merupakan puncak keindahan alam dan di alam. Maka, manis dari keduanya tak lain dimaktubkan untuk membuat diri dan penampilan kian bercahaya seperti bulan atau matahari bagi anak perawan. Cenning rara ini biasa dilakukan dengan media minyak kelapa yang ditanak, telur yang direbus, atau beras yang dijadikan bedak.

Dalam perjalanannya, cenningrara pun terkoptasi oleh nilai-nilai religi yang berkembang di masyarakat. Kuatnya pengaruh islam, menuai perubahan dalam dalam pengadaan media dan mantranya.

Dari perbincangan saya dengan seorang sahabat bernama Pammuda yang kini menjadi dosen Sastra Unhas , pada zaman pra-islam, seremonial untuk mendapatkan cenningrara bersifat lebih ekstrim. Karena dalam konteks kebudayaan bugis, bulan dianggap sebagai puncak keindahanalam dan dialam, maka bagi anak perawan yang berminat memperolehnya, cenningrara hanya dapat dilakukan pada saat gerhana bulan.

Menyediakan medianya pun tidak tanggung-tanggung, harus merupakan hasil curian sebagai prasyarat sebuah totalitas diri yang hanya menggunakan tubuh tanpa secuil kain melapisinya (baca telanjang)

Akan tetapi, ungkap Pammuda, karena barang yang dicuri semata hanya untukperuntukan cenningrara, maka pembelajaran mencuri dalam konteks cenningrara tidak ada. Motif pencurian ini hanya sekedar menjalankan misi pemujaan terhadap keindahan bukan motif ekonomi.

Lantas bagaimana dengan keadaan diri bebas terbuka tanpa sehelai benang? Pammuda menuturkan, bahwa dalam kerangka pemikiran fisik, dicobalah peniruan makro oleh mikro. Bulan dianggap sebagai mahkota alam. Ketika sang bulan menghilang, maka alam diperumpakan telanjang. Manusia sebagai mikro hendak meniru alam yang mencari rembulan tersebut, maka telanjanglah mereka. Kini dalam keadaan seperti itu, samalah dalam keadaan alam yang mencari.
Berdasarkan pada persepsi demikian, dalam keadaan mencari, maka ketika dengan niat tertentu mengambil (mencuri) barang-barang, diasumsikan mereka telah menemukan bulan yang siap memperindah dirinya dan itulah yang kemudian disebut cenningrara.

Sementara itu, perubahan paling mendasar dari prosesi ini setelah masuknya ajaran islam, dengan dihilangkannya syarat telanjang dan mencuri. Tapi jangan berlega hati dulu. Sebab kini, bagi si pencari cenningrara harus membawa seekor ayam putih atau ayam hitam kepada sanro (dukun) , disertai sejumlah uang dalam nominal tertentu. Bacaan yang melengkapi medianya pun ditambahkan dengan Fatimah putri Rasulullah SAW dan Barrakka La Ilaha Illaallah dengan arti semoga Allah mengabulkan. Sebuah pendeskripsian penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa segala usaha yang dilakukan penentuannya berpulang kembali kepada kuasa Tuhan.

Berikut petikan mantra yang biasa diapaki atau dibaca dengan menggunakan bedak. Bacaan ini diajikan sesaat sebelum bedak tersebut dipakai atau disapukan keseluruh permukaan wajah. Berikut kutipannya:

Bedda’na Fatimah u Wabedda,

U paenre ri rupakku

Namatappa pada uleng tepu

Barakka La Ilaha Illallah

Artnya;

Bedaknya Fatimah yang kupakai

Kupakai diwajahku

Dan bercahaya seperti bulan purnama

Semoga allah mengabulkan

Ini lah sekelumit tentang cenningrara. Berminat mencoba? Itu sebuah pilihan bebas. Tapi satu point, penyertaan Tuhan adalah hal terpenting yang tidak boleh terabaikan. Sebab sejatinya, keberhasilan akan mencapai tingkat kesempurnaan jika sebuah usaha dibarengi dengan ridho san Khalik, termasuk dalam hal cinta aksih. Bukankah Tuhan sang pemilik cinta? Semoga cinta anda kepada pasangan merupakan bentuk manifestasi cinta anda kepada Tuhan.

Minggu, 23 Agustus 2015

Cenning Rara ogie

Sekilas Tentang Cenning Rara

Secara harfiah, Cenning berarti Manis. Rara berarti darah yang identik dengan anak gadis (anak dara). Jadi Cenning Rara adalah  pemikat yang ditujukan kepada gadis. Cenning Rara memiliki teks bacaan (baca-baca/mantra) dan gerakan. Jadi Cenning Rara adalah sejenis ilmu pengasihan.

Cenning Rara digunakan oleh pria, apabila ia sangat menyukai seorang gadis namun cintanya ditolak. Apalagi jika dipermalukan oleh sang gadis.

Cenning Rara dilakukan saat berpakaian dan berdandan. Mulai saat meminyaki rambut dengan minyak kelapa. Pada saat dilakukan, maka teks mantranya dibacakan. Saat menggunakan bedak, teks mantra berbeda kembali dibacakan. Saat menggunakan baju dan celana pun demikian. Juga saat bercermin.

Intinya, Cenning Rara terpaket dalam suatu kesatuan antara teks (bacaan mantra) dan gerakan yang dilakukan sebelum keluar rumah.

Prinsip Kerja Mantra Cenning Rara

Bagaimana mungkin sebuah teks mampu mempengaruhi jiwa seseorang ? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita mesti memahami tentang manusia terlebih dahulu. Bahwa manusia adalah makhluk material (jasmani) dan metafisik.

Mungkin kita semua pernah mengalami sebuah kondisi. Dimana kita baru bertemu dengan seseorang, namun rasanya sangat dekat. Bila berjauhan, selalu nyaman mengingatnya. Atau kondisi kedua, dimana kita telah lama kenal dengan seseorang, namun kita tidak merasa nyaman bila bertemu dengannya.

Kondisi pertama menunjukkan bahwa secara metafisik, kita dekat dengan orang tersebut. Sehingga meski baru pertama kenal rasanya sudah seperti lama kenalan. Atau meski berjauhan, selalu mengingatnya secara nyaman.

Kondisi kedua menunjukkan bahwa secara fisik kita dengan dengan orang tersebut, namun jauh secara metafisik. Sehingga meski bertemu dan berdekatan tempat duduk, rasanya tidak nyaman bahkan mungkin sampai pada titik memusuhinya.

Ilmu pengasihan, termasuk Cenning Rara bekerja dengan cara "mendekatkan jiwa pengguna dengan targetnya" sehingga sang gadis yang tidak suka atau tidak tertarik pada sang perjaka menjadi suka dan tertarik sehingga membalas cintanya.

Kembali ke pertanyaan awal, lantas bagaimana dengan teks. Teks sesungguhnya adalah susunan/rangkaian huruf yang merepresentasi makna. Bila teks dirangkai membentuk kalimat yang berisi narasi tentang hajat. Sehingga bila dibaca dengan baik maka akan mempengaruhi jiwa sang pembaca yang pada gilirannya akan mempengaruhi jiwa yang target yang dimaksud.

Bacaan/mantra seiring dengan perbuatan (ada = teks) dan (gau = konteks). Dengan demikian akan memaksimalkan penghayatan terhadap teks tersebut.


Hal yang mempengaruhi Efek Cenning Rara

Bisa jadi seseorang menggunakan Cenning rara dan berhasil, namun pada orang lain justru tidak berhasil. Padahal mantara sama. Berikut ini hal hal yang mempengaruhi keberhasilan efek cenning rara (tentu pada variabel manusianya)

1. Keyakinan sang pengguna

Tujuan apapun yang hendak dicapai pada kondisi tidak yakin mencapainya, akan mengurangi bahkan menggagalkan usaha. Keyakinan juga berarti mensugesti diri agar bisa mencapai tujuan.

2. Transfer

Saat sang guru mengajarkan ke muridnya (terutama Cenning Rara) bukan hanya teks dan gerakan yang diajarkan. Akan tetapi ditransfer "berkahnya" sebagai kunci untuk mengaktivasi Cenning rara tersebut. Transfer bisa melalui tatapan mata, sentuhan tangan guru ke murid, atau gelombang suara tanpa murid sadari. Sehingga wajar misalnya si A mendapatkan Cenning Rara dari neneknya (ditransfer tanpa disadari) dan ampuh untuk dirinya. Namun saat temannya yaitu si B mendapati catatan teks mantra Cenning Rara (tidak ditransfer) kemudian membaca dan melakukan Cenning Rara tapi tidak aktif atau tetap ditolak oleh pujaan hatinya.

3. Kondisi sang gadis

Berhubung ilmu pengasihan terutama Cenning Rara bekerja diwilayah metafisik manusia, maka tentu variabel yang mempengaruhi adalah kondisi si gadis sebagai target ini. Jika jiwanya lemah, maka akan mudah bagi Cenning Rara untuk bekerja. Tapi jika jiwa sang gadis kuat. Bisa jadi karena tempaan hidupnya. Bisa jadi karena konsistensi ibadahnya. Bisa jadi karena doa orang orang terdekatnya yang makbul dan seterusnya. Sehingga Cenning Rara ini tidak mempan baginya

4. Usaha


Gerakan yang dilakukan saat membaca teks mantra cenning rara (meminyaki rambut, bercermin, memasang baju dan seterusnya) adalah usaha-usaha atau gerakan yang mensinergiskan dengan teks mantra tersebut.
Saat seorang jejaka memasang Cenning Raranya tentu ia harus berusaha mendekat pada sang pujaan hatinya. Seperti halnya seseorang yang cuma mengirim sms kata kata cinta tapi tidak melakukan pertemuan langsung, tentu "mantra cinta" yang terkirim lewat sms akan tak berarti

Bagaimana memandang Cenning Rara dalam kehidupan sehari hari
Sebenarnya ilmu pengasihan, termasuk Cenning Rara melakukan rekayasa perasaan terhadap sang gadis sehingga ia berubah dari tidak suka/hambar atau benci menjadi suka atau jatuh cinta.

Karena merekayasa perasaan orang lain, tentu ini kurang baik. Sebab sama saja memaksa orang lain. Padahal sudah umum orang pahami bahwa dalam dunia percintaan, tak ada paksaan didalamnya.

Sehingga bagi para jejaka yang masih berjuang mencari pasangan hidup, ada baiknya untuk berjuang secara "lebih alami" ketimbang "rekayasa". Cinta yang lahir secara alami lebih permanen ketimbang cinta yang lahir dari Cenning Rara dan ilmu pengasihan lainnya.

Jumat, 21 Agustus 2015

Waktu Dalam Budaya Bugis

 

Waktu Dalam Budaya Bugis

Nama-nama hari dalam satu Minggu :
1.Minggu (bugis: aha')
2.Senin (bugis: seneng)
3.Selasa (bugis: selasa)
4.Rabu (bugis: raba'/arabang)
5.Kamis (bugis: kammisi)
6.Jumat (bugis: juma')
7.Sabtu (bugis: sattu)

Istilah Pasa Lima-lima dalam Budaya Bugis juga ada, berikut nama-namanya :
1. Masuara
2. Bisnong
3. Sirri
4. Barahamag
5. Kala

Istilah Nama Bulan Bugis (diurut dari Januari dalam kalender Masehi) :
1. Naagai
2. Palagunai
3. Bisaakai
4. Jettoi
5. Sarawanai
6. Pe'dawaranai
7. Sujiwi
8. Pacciekai
9. Pociyai
10. Mangasierai
11. Mangase'tiwi
12. Mangalompai

Lontara Powada Adaeng-Ngi Indal Patara

Lontara Powada Adaeng-Ngi Indal Patara

 Ripammulai rampe-rampe-i Lontaraq powada adaeng-ngi INDAL PATARA.

Ritette-i genrang arajang-nge sompani Perdana Menteri-e makkada jajiang-ngi anak permata mattapa seajitta. Napada marennu manengna To maegae engka-e takkappo. Nakkadana Arung-nge topada tama wanuwa-E mitai paramata mattapana SAMATAPURA. Tessiagato ettana pada Iettu’ni napada menre’na ri salassa-E, massuni RAJA BOKORO MABESPAN passaniyasang-ngi kadera sibawa waE ri cere’ ulaweng-nge ribelo-beloi paramata ako’. Natettong-na datuwe SAMATAPURA sibawa tomaegana pakarajai, nakkatenni-ni limanna napatudang-ngi ri kadera ulaweng penno-we ratna mutumanikam, napada marennu manengna To maraja-e engka-e takkappo ri wanuwa-e Samatapura, nasaba marennu manekki ri wettu jajiangetta anak paramata mattappa, nasaba namaseitta muwanneki puwang Allah taala. Nakkadana Raja Bokoro: “E…siajikku rennumani mengkaiyya’ sibawa asauk kinin nawang”.


Naiyya sininna lise’na Salassa-e tessi tolingeng teppa timunna tau mega-e. De-na nappisau oni-oni-e, maggambo’ni anak karungnge, serene bone bolae, jagani To Maraja-e,makkelon-ni Dayang-DayangE, enreng-nge tau makessing-nge saddan na. riyakkani pattowanan na Arung – nge. Alamassiya- siya muwa tedong tedong ritunu , saping, bembe’ bembala, jonga, manu’, itik.

Tenri pabbiring toha anreang-nge puppu kesso. Temmalupupa anak to maraja-e. Purai kuwa makkadani datu-e Samatapura: “Pada tamani’ malai gajanna INDAL PARTARA. Nabawani gajang-nge lao ri yolona Indal Patara, napada makkitana To Maraja-e, napada mitai okina gajangna. Napada suju’na ri Allahu Taala Puwang mappunnai yengngi gajang-nge. Sikalmaisani asenna gajang-na. makkada toi arung-nge ri MANGINDARE Tapada tama mitai paramata mattappana Samatapura. Napada Tarakkana Arung-nge muttama mitai paramata mattappa Samatapura. Napada ritiwirenI kadera muttama ri laleng paddenring.

Makkadani Arung-nge JAELANI timpa’ sai passalowonna Indal Patara, naritimpa’na passalowonna Tau Baru.E, nattappana rupanna, maserro maccaiyya tappana Indal Patara. Napada mappojina To Maraja-E ri AIlahu Taala makkada jajiyang tongeng-ngi sijajitta anak paramata mattappa. Naiyya purana na, pada massimang ni Arung-nge napada nrewe ri wanuwanna. Naiyya pada lettuna na ri bolana pada napauwwanni bainena makkada iyya Allahu Taala pure natarowang memeng.ngiha dalle’na, apa’ iyya siyajitta Raja. Bokoro Mabispan ri pakkita mata engka mopa ana’na makkunrai naiyya orowanewe duat ttaunni umuru’na. Elona tongeng haro Allahu Taala najajiyang anak siyajitta datuwe ri Samata Pure mallaibine.

Pada makko manengni ro adanna sinin na polewe mitai. Takkajeane maneng atinna mitai elo ullena Puwang Allahu Taala. Puraikuwa naiyya Datuwe mallaibine temmaka rennun na atinna mitai ana’na sibawa pakkaritutunna Naiyya Raja Bokoro Mabespan nasuroni ana’ riboko-E lao tampaiwi PATEHUL ARIPIN. Tessiagato ettana na engkana Sanro Botowe sompa suju’ riajena Datuwe. Makkadanji Raja Bokoro Mabespan, E. . .Patehul Aripin kuwaetopa To Panrita-E, Sanro Botowe, weboreng-ngi mupada mitai ajajiyangena anakku, napada cuku’ na pada mitai ulunna, nainappa conga makkita inappa makkada E…Puakku naiya totona anakku temmaka uwita decenna nalolongeng matu araja sewwanna puwang Allahu Taala sibawa akuwasanNa lyanna mua nakko genne’ ni matu seppulo taung umuru’na masarani’ nasaba’ meboni mampeyai asogirenna Alahu Taala.

Naiyya Datuwe naengkaligana adanna To Panrita-E sibawa Sanro Boto- e tassempani arona maseleng. Naiyya Pathul Aripin naitana Datu-we takkajenne, sompani makkada, E. . .Puwakku iyyanaro upowada ridi makkad-e narekko genne’ni seppulo taung umuru’na ana’ta Puang, aja’ lalo taturu-turui macculei olokolo, padaena rapang manu-manu-e, kuwaetopa rapang makkenyawa-e puwang. Purai kuwa, nasaba’ rennun na Datu-we keana’pada risidekkaini ulaweng, salaka, sibawa pakeyang malebbi Panrita-e, To Kasiyasi-e, Pakkere’-e, Sanro Boto-we nenniya To Mamase’-mase’-E. Mappamula toni tudang penni maddiyo-riyo, maddeppungeng maneng toni To Maraja-E sibawa Pakkatenni Ade’-E. Engka maneng toni Lili Passiyajingen-na ri Bokoro Mabespan. makkadani Datu-we ri To Maegana “Winruko Pancakuru dua ulunna”. Tessiagato ettana Panca-e. Nadapini tanra essona. Ala massiya-siya muwa tedong, anyareng, saping, bembe’, bembala, rigere. Ritette’ toni genrang arajang-nge, engka manengni sinin-na bali arung-na. maggambo’ni anakarung-nge, jagani To Maraja-e, serene Bone Bola-e, makkelong-ni Dayang-Dayang-nge, enreng-nge To Makessing-nge saddanna; Rililling-ni paddenring-na Indal Patara. Naiyya purana ililling ripappakeini Indal Patara, Purai ripappakei riyakkani menre’ ri To Maraja-e, nariwali-walina Indal Patara massu saliweng.

Rirakkai-wi pau-pau-we, ripatonang-ni noo ri panca-e naripaggoliling ri Wanuwa-e. Na wekkapitu-i magguliling ri wanuwa-e ri Samatapura inappa ripenre’ri Salassa-e, na ripatterru lao ri Lamming Pulaweng-nge,T na iriwa ri To Maraja-e. Takkajenne’ maneng To mega-e miktai kessinna lndai Patara tenri yulle panyenynyeki (patetteki) pakkita nataro accaiyyana rupanna.

Naiyya Datu-we Mallaibine temmaka rennu-nĂ¡ inin nawanna mitai ana’na sibawa pakkaritutunna. Alamassiya-siya muwa ana’ To Maraja, ana’ Tau Sogi, ripenjekeng-ngi newai sipaccule lndal Patara. Makkadani Datu-we ri ana’ ri Boko-e laoko mutampaiyyangnga Patehul Ariping. Temmetta toi engkani Patehul Ariping. Makkadani Datu – e: E Pathul Ariping, madecengni mupangaji Indal Patara nasaba engkani maraja-raja, maccatoni makkada-ada. Nasompana Pathul Ariping makkada madeceng sa puang, de’ totu salana, bara’ naloppoi ammani deceng enreng-nge martabat matanre, aga narisidekkaina Pathul Ariping. Purai kuwa soroni Lewo-lewo-E sitarupa, soro toni Patehul Ariping lao ri bolana nasibawai asauk kininnawa. Nadapini tanra essona na enre’na Patehul Ariping ri Salassa-e pangajiwi Indal Patara. Na dua ratui si angajiang, Indal Patara mi bawang degage caui rupai lapaleng-nge. Tessiagato ettana mangaji natemme’na Indal Patara, naripaggurusi mattajewid.

Temme’si Tajewidna Indal Patara, ripaggurusi massarape, Temme’si sarape’na ripaggurusi mannahawu. Temme’si Nahawunna, ala massia-sia muwa kitta nabaca Indal Patara, ripangajisi mattapsere, enreng-nge kitta maraja laeng-nge. Napoaseng-ni Indal Patara biccu’ mopi na Panrita marajana. Namarennu na lnan-na enreng-nge Aman-na. Makkadani Datu-e Samatapura ri bainena: “E….Andi maeganiro pengissengeng nalolongeng ana’ta. Iyyamani depa nalolongeng-ngi, depa naisseng-ngi maccule-cule peddang-nge sibawa mappalari nyareng-nge. Iyyaparo waseng-ngi macca narekko naisseng-ngi lyaro cule-cule-we. Namanenneng-na, nacukuri natemmeri-e. Makkadani Raja Bokoro Mabespan ri To Marajana : ‘Madeceng-ngl mupattimummu maneng-ngi Pabbanua-e engka-e ANYARENG-NA, napada tiwi-i mai, nasaba’ meloka’ mita-i INDAL PATARA maccule ri yolona Salassa-e Iettu ri along-ngalong-nge. Ala’ mua nassu ri saliweng panuwa.

Purai kuwa timummu maneng-ni Pabbanuwa-e engka-e anyareng-na ri yolona Salassa-e ri SAMATAPURA. Na-ripappangujuna Indal Patrara, ripabbulaweng-ngi, riparamatai batu eja enreng-nge peddang-na. Natettong-na Indal Patara ri laleng-na baruka-e, na samanna merra’ riyanjong makkatenni-wi peddangna. Na okkomua ri laleng-na tabo-tabowang-nge. Naiyya ri wettu tettonna Idal Patar

Lontara Pananrang

Lontara Pananrang

PANANRANG TASSIPARIAMAE (8 TAHUN)
  1. Taung Alipu : 1 tetti’na = salasa naomporang Muharram, maraja namaponco bosinna, masero lempe’na, biasa malise pattaungenna, jaji buana ase nenniya taneng-tanenge rilalenna tassipariamae. Iyanae taung kaminang masahoro na malise nenniya madeceng pattaungenna. Jaji asseddinna pallontara pappananrangnge iyanaro naripancaji pammulataung rilalenna sipariamae (8 taung).
  2. Taung H : 5 tetti’na = sabtu naomporangnge muharram, lalo tengnga pattaungenna, masero bosinna, makurang sokku biasa taneng-tanengnge, ajung kajung mabbuai, lalo tengngai buana ase (wasesae-singaseri), biasa sawei lasa-lasae, masero kecce’e.
  3. Taung Jim : 3 tetti’na = kammisi naomporang muharram, situju-tuju bosinna, maponco bare’na, lalo tengnga pattaungenna, jaji buana taneng-tanengnge, iyakiya makurang sokku buana wesesae, bettuanna makurang lise’na galungnge, biasa mapella keadaanna rupataue, parellui ritu simata tomatike, nasaba maega anana mate, masempoi balu-balu’e sibawa anu rianre.
  4. Taung Zei : 7 tetti’na = aseneng naomporang muharram, masero bosinna, maraja lempe’na, biasa riengngala riuwae asewe, biasa makkasolang balawoe, lalotengnga buana wesesae (ase), biasato masero lette, tau malasae magattimui paja.
  5. Taung Daleng Riolo : 4 tetti’na = juma’i naomporang muharram, lalo tengnga bosinna, maponco bare’na, jaji buana taneng-tanengnge, biasa masala buana wesesae, biasa masala buana wesesae, iyakkeppaha engka saisana pallontarae masengngi taung makapa namalamung peri’na ripapole wassele’e namasero pellana tikkana, narekko taddapini lamattanetelangi biasa ritu duppai arelle tauwe, jaji buana taneng-tanengnge, maseroto kecce’e, masempo dalle’i pakkere’e.
  6. Taung Ba : 2 tetti’na = araba naomporang muharram, kerengngi kecce’e, bosinna biasa masero ritasi’e sibawa ripottanangnge nenniya lempe’na maseroto. Biasa senna masala wesesae, biasa duppa warelle tauwe, jaji lise’na taneng-taneng makkalolo’e, lalotengnga buana taneng-taneng mallice-lice’e, pella tikkana biasa temmaka serona, maega senna pattellarenna, iyanaritu taung bawang, bali taung, taung barelle, taung balesui (taung makkasolang), de’to namadeceng buana ajung kajungnge (majarang), biasa masempo anu rianre, saweto lasa-lasae.
  7. Taung Wau : 6 tetti’na = aha’i naomporang muharram, biasa masero basinna, maraja lempe’na, masero kecce’e, lalotangnga pattaungengnge (ase) biasa manre balisue, biasa riengngala maruwae ase, saweto lasa-lasae, peddi matae, maega urane makkandang tau mattampu, biasato mapella keadaangnge.
  8. Taung Daleng Rimunri : 4 tetti’na = juma’i naomporang muharram, lalo tengnga pattaungenna, maponco bosinna, madodong anginna, makurang lempe’na, masero tikka’e, jaji buana taneng-tanengnge, anging bare’e biasa ritu maladde akkasolanna, biasa duppa arelle tauwe, narekko mate ului bare’e, wesesae biasa jaji biasa to sala, masempoi dalle’na pakkere’e, biasato masero hawa kecce’e, biasa mapella keadaangnge.
PAPPAKAINGE
Narekko mattajengngi bosi mappammula ompo siwenninna lettu ompo tellumpenninna uleng Muharram naengka mua bosie namasero, namaraja lempe’na, mannessani ritu tuoulumi pattaungnge namaega mua bosinna rilalenna ritu.

Jaji madeceng manengmui uruwaena tungke-tungke pananrangnge rilalenna sitaungnge ritu. Naiyamua narekko ritajengngi bosinna pattaungengnge mappammula ompo siwenninna lettu ompo tellumpenninna namadodong, maponco bosinna, madodong maponco’to bosinna pananrangnge, mabaiccu’to lempe’na.

Narekko ritajengngi bosinna pattaungengnge ritu mappammula ompo siwenninna lettu ompo tellumpenninna nade’siseng bosinna, mappannessani ritu mateului pattaungengnge, jaji weddingngi jaji timo’e, iyarega serangnge iyanaritu ittana 3 uleng, 5 uleng, 7 uleng, iyarega timo 9 ulengna. Makkutoparo de’nappabbati sangadinna elonapa Puangnge Jaji, Amin, Wassalam...

PAPPAKAINGE
  1. Naiya riasengnge Nakase Taung iyanaritu: sitaung nawawa akkasolanna, iga-iga tau missengngi narekko maelo’i pugau seddi hajat, pada-padanna maelo’i mappabbotting, biasa tomatoatta de’ nallorangngi ripugau, nasaba’ mabbiasa engka akkasolanna ritu.
  2. Makkutoparo riasengnge Nakase Uleng (garutu) iyanaritu 3 uleng nawawa akkasolanna. Iga-iga tau maelo pugau seddi hajat iyarega jama-jamang pada-padanna mappabbotting iyarega maelo lao jokka-jokka mabela (lao sompe), biasa tomatoatta de’nallorangngi riougau nasaba mabbiasa engka ritu akkasolanna.
  3. Nasaba engkanna akuasangenna Puang Allah Ta’ala, narimakkuannanaro biasa engka jaji bahaya narekko napugau’i tauwe rilalenna ritu (esso Nakase Taung sibawa Nakase Uleng (garutu).
OMPORENNA ULENG MADECENGNGE / MAJA’E AGI-AGI MAELO RIPUGAU RILALENNA RITU
  1. Siwenni : esso anynyarang asenna, ana-ana jaji malampe sunge’i pegaui passurong Puang, matturu’i ripajajianna, masempo dalle’i nasaba esso ripancajinna Nabi Adam. Agi-agi pura tempeddingngi riappammulang.
  2. Duampenni : esso jonga asenna, najajiangngi ana’ pertama, maupe’i namasiga mallakkai, apa iyanaritu naripancaji neneta Hawa. Agi-agi madecengnge wedding mua ripugau, rilaoangngi sompe, runtu’ki alabang, tapi de’ nawedding rilaoangngi mammusu.
  3. Tellumpenni : esso macang asenna, nakase’i nasaba esso najajiangnge Kabil ana’na Adam. Ana-ana jaji madorakai ripajajianna, maja’i riappabbottingeng, majai riattanengeng, rilaoangngi mabela nakennai sukkara, iyanaro naripassu’ Adam-Hawa pole ri surugana Puang Allah Ta’ala.
  4. Eppa wenninna : esso meyong asenna, najajiangngi ana baraniwi, makessingngi riappanorang bine, tapi ompo 4-5-6-7-13-15-17 majai riappammulang mattaneng ase nasaba nanrei ule, makessing muto rilaoang mabela, narekko tau kawing pangkagarengngi nadenaullei massarang, narekko riakkalangngi inreng denariullei waja’i.
  5. Lima ompo : esso kalapui asenna, najajiangngi ana madorakai ripajajianna, nakase’i de nawedding riappanorang bine.
  6. Enneng ompo : esso tedong asenna, makessing mua rilaoang mabela, runtu’ki alabang, makessing muto rikawingang, najajiang ana tanra maccai mabbicara toriolo, pugau’i passurong Puang, tapi kasi-asiwi, makessingngi riangelliang tedong (saping) iyarega olo-kolo mawijai, makessingngi riakkabbureng wakke nasaba teai lobbang wakke’na ritu, makessing muto riappanorang bine (ase).
  7. Pitu ompo : esso balawo asenna, tempeddingngi riakkalang inreng nasaba tenriullei waja’i, maja’ toi riellauang wae galung nasaba nanrei kare ase ritu, tapi makessingngi riakkebbureng pakkakkasa no’ ri salo’e/ri tasi’e, madeceng muto rikawingeng nasaba weddingngi sugi.
  8. Aruwa ompo : esso sapingngi asenna, ana-ana jaji malomo patulungngi ripadanna tau, masempo dalle’i, madecengngi rikawingeng nenniya riappatettongeng bola nasaba mattiro camming asenna, madeceng muto rilaoang sompe (tega-tega), madeceng riappammulang balu-balu.
  9. Asera ompo : esso asui asenna, madecengngi riappammulang mattaneng rigalungnge sibawa waena galungnge mappammula malaki’ wae galung, mauni sibotolo’ muna naripenre riakkeangnge, najajiangngi ana-ana madorakai ripajajianna sibawa ri Puang Allah Ta’ala. Narekko rikawingengngi malomoi massarang iyarega matei masitta makkunraie.
  10. Seppulo ompo : esso nagai asenna, maja’i riappammulang mattaneng rigalungnge/ridare’e, makessing tosi rilaloang mangolo riarungnge, makessing riabbottingeng, najajiangngi ana’ maupe’i.
  11. 11 ompo : esso bembe’i asenna, makessingngi nasaba iyanaritu nariputtama Nabi Adam ri surugae, najajiangngi ana’ turu’, maupe’i, malampe sunge’i napugau’i passuroangna Puang Allah Ta’ala.
  12. 12 ompo : esso gajai asenna, temmagagai tau laloe, toriwelaiye, tau ripoleiye nasaba iya najajiang Nabi Muhammad SAW, najajiang ana maupe’i pogau’i passuroang, madeceng riappanorang bine, agi-aginna madecengngi nasaba barakka’na Nabitta Muhammad SAW.
  13. 13 ompo : esso singa asenna, nakase’i (maja’i) nasaba esso ritununna api Nabi Ibrahim, ripakkerina Raja Namrud, najajiangngi ana mabbiasai ujangeng, rilaoangngi mabela biasai nakennaki lasa ritengnga laleng atau mateki rilaotta.
  14. 14 ompo : esso serigala asenna, sininna jama-jamang madecengnge salama’i ripugau, makessingngi rilaoang mammusu, dangkang, sibawa rikawingeng nasaba iyanaritu narijajiang Nabi Sulaiman, najajiangngi ana sugi’i.
  15. 15 ompo : esso iti asenna, ana-ana jaji pogau’i passuroang, naniriwi pappesangka, turu’i ripajajianna, riammasei ri padanna tau, macanti’i tappana nasaba najajiangnge Nabi Yusuf, tempeddingngi riappatettongeng bola nasaba teyai nasalai lasa punnana, rilaoangngi sompe nakennaki lasa atau halangeng.
  16. 16 ompo : esso bawi asenna, nakase’i nasaba esso ribuanna Nabi Yusuf rikalebbongnge ri padaranena, ana-ana jaji ujangengngi, agi-agi maja’i ripugau kecuali mattaneng ikkaju ki’, mabbuai, madecengngi riakkabbureng onrong doi’ teyai lobbang.
  17. 17 ompo : esso jarakenniai asenna, madecengngi rilaoang mangolo riarungnge, rilaoang madduta teyai tenritarima, rilaoangngi riwanua laingnge madecengngi.
  18. 18 ompo : esso balipeng asenna, nakase’i nasaba esso najajiangnge Nabi Isa, najajiangngi ana macanti’i, iyatonaro naripancaji matanna essoe, salama’i rilaoang mabela atau sompe, narekko jajiang ana napeddiri ati tomatoanna, tapi pogau’i passuroang Puang Allah Ta’ala.
  19. 19 ompo : esso lancengngi asenna, najajiang ana pogau’i passurongna Puang Allah Ta’ala, malomoi sugi, malomo atiwi ripadanna tau sibawa ripajajianna, esso najajiangnge Nabi Yakub, makessingngi rilaoang dangkang.
  20. 20 ompo : esso ula’ asenna, makessing ladde rilaoang madduta, najajiangngi ana teyai tessugi, esso najajiangnge Nabi Ismail.
  21. 21 ompo : esso tau asenna, nakase’i nasaba esso najajiangnge Fir’auna, tau rigellie ri Puang Allah Ta’ala, narekko riappattettongengngi bola teyai tennanre api, narekko riappammulangngi tennung atau riassapparengngi tennung teyai tenriaddorang tau mate, ponco’na ada appakeng parewa agi-agi aja’na naripammulai, kuaenna parewa bola tempeddingngi riala, pada-padai narekko ompo siwenniwi akerekenna.
  22. 22 ompo : esso aloi asenna, narekko anu madecengmua, salama’i ripugau’, esso naripancajianna malaika’e, najajiangngi ana tanra turu’i ripajajianna, turusitoi passurong Puang Allah Ta’ala, salama’i rilaoang sompe, rilaoangngi mammusu ricau’i balie, ko ‘idi rilaoi idi tosi ricau’.
  23. 23 ompo : esso incale asenna, makessingngi riabbottingeng, sawei mawase’ki, riangelliang appakeng temmaradde’i ridi, tapi makessingngi riangelliang balu-balu, magatti’i tarala namakessing sarona.
  24. 24 ompo : esso balipengi asenna, makessingngi riappabbottingeng, najajiangngi ana masempo dalle’i nasaba timunnami kedo jajisi pattujunna, makessingto riangelliang alo-kolo nasaba mawijai ritu.
  25. 25 ompo : esso balawoi asenna, nakase’i nasaba nakennai lupu kampongnge, pituttaungngi tika, najajiangngi Nabi Ibrahima, ana jaji matturu’i ri Puang Allah Ta’ala sibawa topajajianna, narekko riappabbottingengngi teyai temmassarang, pangkagarengngi mallaibine, makessingi rilaoang massinge pappainreng nasaba teyai tenriwaja, mauni maega muna.
  26. 26 ompo : esso serigala asenna, makessingi rilaoangngi sompe, riabbotingengngi ana jawiji sugi, makessing riattanengeng agi-agi makessing maneng mui ri jama.
  27. 27 ompo : esso Nabi asenna, makessingngi rilaoang mabela, riappangujuang menre ritana Mekkah, makessingto riappanorang bine, riappattettongeng bola, riakkalang inreng nasaba masitta’i riwaja, riappakkennang pangulu bangkung, passorong bessi, riakkabbureng addeneng, massuro mallanro kawali tappi.
  28. 28 ompo : esso kalapu asenna, najajiang ana pogau’i passurong, makessingngi riakkabbureng wakke olokolo nasaba mawijai, makessing to riabbottingeng.
  29. 29 ompo : esso sikadongngi asenna, madeceng riallantikeng tomapparenta nasaba mattuppu batui batena mapparenta, madeceng to riangelliang balu-balu nasaba magatti’i taralla, naekiya maja’i riangelliang appakeng nasaba nalai pelolang atau tabbei, madecetto rilaoang sompe, riattanengeng, agi-agi jama-jamang madeceng manengi ritu.
  30. 30 ompo : esso manu asenna, makessingi rilaoang dangkang nasaba salama’i iyatonaro naripaturung dalle’e risininna ripancajie, makessingngi riellau doangeng rimunri sempajang assara’, iyatonae esso kaminang macoa, appettung bicaratoi sininna pananrangnge rilangi’e, ana jaji malampe sunge’i namasempo dalle’i napugau’i passuroanna Puang Allah Ta’ala, iyatona riaseng tepu lotong.
Dalam Versi Bahasa Indonesia.
Lontara’ Laongruma adalah naskah yang memuat tentang tata cara bercocok tanam, perubahan iklim, siklus musim tanam, baik tanaman palawija maupun tanaman padi. Naskah ini juga memuat tentang prakiraan serangan hama tanaman bila ditanam pada waktu tertentu dalam bulan-bulan tertentu, dan bahkan juga dapat diprediksi musim-musim wabah penyakit (sai =Bugis).
Naskah-naskah klasik di Sulawesi Selatan, menurut jenis dan isinya dapat dikategorikan sebagai berikut :
  • Lontara’ Patturiolong/ade’ (memuat tentang aturan-aturan hukum dalam hubungan sosial kemasyarakatan),
  • Lontara’ Pabbura (memuat tentang ramuan-ramuan obat/obat-obatan),
  • Lontara’ Bilang (memuat tentang catatan harian/agenda peristiwa penting dalam kerajaan),
  • Pappaseng (memuat tentang pesan-pesan/nasehat orang-orang bijak),
  • Kutika (memuat tentang waktu/hari yang baik dan buruk atau tentang nasib dan peruntungan),
  • Lontara’ Laongruma/Pananrang (memuat tentang tata cara bercocok tanam, iklim dan curah hujan). (H.Johan Nyompa, 1986: 4)
Ompona Muharram = Terbitnya bulan Muharram.
Apabila terbitnya bulan muharram jatuh pada:
  1. Hari Sabtu; maka musim dingin akan panjang, panen padi melimpah ruah, dan tentram kerajaan.
  2. Hari Ahad; musim sangat dingin terutama yang tinggal dibantaran sungai, serta buah-buahan melipah ruah.
  3. Hari Senin; wabah penyakit meraja lela, banyak orang yang meninggal, kurang curah hujannnya, banyak orang yang melahirkan anaknya laki-laki, terjadi keresahan atau kesusahan dalam kampong.
  4. Hari Selasa; tidak ada hasil pada musim timur, banyak curah hujan dan petirnya, banyak orang yang sakit akan tetapi tidak sampai meninggal.
  5. Hari Rabu; musim dinginnya kurang, mudah mencari reseki.
  6. Hari Kamis; tidak ada hasil pada musim timur, banyak orang yang melahirkan dan buah-buahan melipah.
  7. Hari Jumat; para pedagang bakal meraup keuntungan besar, bahkan semua orang meskipun yang lemah juga tetap ada reskinya, hasil panen juga melimpah, serta buah-buahan juga melimpah.
Penanggalan hari satu sampai tiga puluh :
  1. Tanggal 1;Esso annyaranngi; tidak baik untuk merantau, baik untuk urusan pemerintahan, hari kelahiran Adam
  2. Tanggal 2 ; Esso jongai asenna; baik untuk perkawinan, baik untuk jualan, hari kelahiran Hawa
  3. Tanggal 3 ; Esso sikui asenna; tidak baik untuk semua jenis pekerjaan,
  4. Tanggal 4 ; Esso meongngi asennna; baik untuk membangun rumah, pernikahan
  5. Tanggal 5 ; Esso ulai asenna; semua yang dikerjakan tidak baik, tenggelamnya nabi Nuh
  6. Tanggal 6 ; Esso tedongngi asenna; baik untuk pembelian kerbau, tidak baik untuk merantau, dan membeli pakaian
  7. Tanggal 7 ; Esso balawoi asennna; bila beutang tidak dapat diabayar
  8. Tanggal 8 ; Esso Banua alipengngi asennna; baik untuk bepergian, pernikahan.
  9. Tanggal 9 ; Esso nagai asenna; bagus untuk bepergian
  10. Tanggal 10 ; Esso nagai asenna; baik untuk meratau, mendirikan rumah, menanam
  11. Tanggal 11 ; Esso macangngi asenna; hari masuknya surga Nabi Adam, baik untuk kembali ke pantai
  12. Tanggal 12 ; Esso macangngi asenna; baik untuk jaual-jualan
  13. Tanggal 13 ; Esso gajai asenna; tidak baik untuk merantau, kurang kebaikan.
  14. Tanggal 14 ; Esso pulandoi asenna; baik untuk semua pekerjaan keculai merantau
  15. Tanggal 15 ; Esso balei asenna; baik untuk membuat perahu
  16. Tanggal 16 ; Esso bawi asenna; baik untuk menanam dan tidak dengan yang lainnya
  17. Tanggal 17 ; Esso jarikaniai asenna; baik untuk semua pekerjaan termasuk merantau, melamar, menghadap Raja.
  18. Tanggal 18 ; Esso balipengngi asenna; baik untuk merantau, pernikahan, mendirikan rumah, dan menanam.
  19. Tanggal 19 ; Esso lawenngi asenna; bagus untuk melamar
  20. Tanggal 20 ; Esso ala-alai asenna; baik untuk melamar orang akan senang menerima kedatangan kita.
  21. Tanggal 21 ; Esso nahase; kurang kebaikannnya
  22. Tanggal 22 ; Esso assiuddaningeng asenna; baik untuk merantau, mendirikan rumah, pernikahan, dan menanam
  23. Tanggal 23 ; Esso ilesso’I asenna; baik untuk merantau, menanam, pernikahan, dan tidak baik untuk yang lain.
  24. Tanggal 24 ; Esso pariai asenna; kurang kebaikan
  25. Tanggal 25 ; Esso Pasessoroa asenna; kurang kebaikan
  26. Tanggal 26 ; Esso suniai asenna; baik untuk merantau,menanam, kalau berutang akan cepat dibayar, baik untuk nelayang
  27. Tanggal 27 ; Esso ulai asenna; semua yang dikerjakan akan baik, merantau, menanam, kalau berutang akan cepat dibayar
  28. Tanggal 28 ; Esso Alapung asenna; semua yang dikerjakan akan baik, merantau, menanam, kalau berutang akan cepat dibayar
  29. Tanggal 29 ; Esso itii asenna; tidak baik untuk merantau, kurang kebaikan.
  30. Tanggal 30 ; Esso nanu’ asennna; baik untuk menebang kayu, tidak dimakan rayap, kalau ada anak yang lahir akan murah reskinya.
Dalam lontara pananrang, setiap hari mulai jumat sampai kamis dibagi kedalam lima waktu yaitu
  1. Pagi,
  2. Antara pagi dan tengah hari (abbue-bueng),
  3. Tengah hari,
  4. Lewat tengah hari,
  5. Sore hari.

Mappasitinaja

Mappasitinaja 

Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992)

sebagai berikut.

Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi
maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae.
(Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.)

Dari ungkapan itu, tergambar bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati.

Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut mappasikoa. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya. Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.

Aja' muangoai onrong, aja' to muacinnai tanre tudangeng, de'tu mullei padecengi tana. Risappa'po muompo, ri jello'po muompo, ri jello'po muakkengau.

(Jangan serakahi kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan kedudukan tinggi, jangan sampai kamu tidak mampu memperbaiki negeri. Bila dicari barulah kamu muncul, bila ditunjuk barulah kamu mengia.)

Ungkapan lain yang menganjurkan manusia berbuat wajar adalah sebagai berikut.

Duampuangenngi ritu gau sisappa nasilolongeng, gau madecennge enrennge sitinajae. Iapa ritu namadeceng narekko silolongenngi duampuangennge. Naia lolongenna ritu:

a. narekko ripabbiasai aleta mangkau madeceng, mauni engkamuna maperri ri pogaumuiritu.
b. Pakatunai alemu ri sitinajae
c. Saroko mase ri sitinajqe
d. Moloi roppo-roppo narewe
e. Moloi laleng namatike nasanresenngi ri Dewata Seuwaee
f. Akkareso patuju.

(Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas. Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:
a. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.
b. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.
c. Ambillah hati orang sepantasnya
d. Menghadapi semak-semak ia surut langkah
e. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan
f. Berusahalah dengan benar.)

Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah. Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari manusia itu. Dalam Lontarak disebutkan:

Cecceng ponna cannga tenngana sapu ripale cappa'na
(Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)

Jadi, Lontarak amat menekankan pentingnya manusia berbuat secara wajar, seperti dapat disimak dalam ungkapan:

Aja' mugaukenngi padammu tau ri gau' tessitinajae
(Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu manusia)

Selanjutnya, Lontarak memperingatkan bahwa sifat serakah atau tamak, sewenang-wenang, curang, perbuatan tega atau tidak menaruh belas kasihan kepada orang lain dapat menghancurkan nilai kepatutan dan dapat menimbulkan kerusakan dalam negara. Pertama, keserahan atau ketamakan, menghilangkan rasa malu sehingga mengambil hak-hak orang lain bukan lagi hal yang tabu. Karena, orang yang bersifat serakah atau tamak tidak pernah merasa cukup sehingga apa yang dimiliki selalu dianggap kurang. Kedua, kekerasan akan menyebabkan melenyapkan kasih sayang di dalam negeri. Artinya, rakyat kecil harus mendapat perlindungan demi tegaknya suatu negara, tetapi kalau pihak yang berkuasa berbuat sewenang-wenang (hanya unjuk kekuatan) berarti kasih sayangnya kepada masyarakat akan hilang yang sekaligus memperlemah kedaulatan rakyat.

Ketiga, kecurangan akan memutuskan hubungan keluarga. Artinya, orang yang curang tidak pernah merasa puas atas hak-haknya sendiri.

Ia selalu berpikir untuk memiliki hak-hak orang lain. Orang seperti itu, akan menemukan kesulitan dalam hidupnya karena tidak ada orang yang akan mempercayainya. Keempat, perbuatan tega terhadap sesama manusia, melenyapkan kebenaran di dalam negeri.

Artinya, para pejabat negeri dituntut untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Berbuat tidak adil berarti kebenaran dilecehkan dan bila kebenaran dilecehkan berarti kehancuran bagi negeri. Karena itu, agar negara selamat dan berhasil, para pemimpin haruslah berbekal kejujuran disertai dengan kepatutan.

Pesan orang tua bugis / paseng tau riolo

Pribahasa Bugis 


tEpEtuu mao ePeG, tEpolo msElomoea.Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’.


(Tak akan putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).
  • Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu permasalahan. Toteransi dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan tercapai tanpa kekerasan.
turukiea ainpEsu pdai tonGiea lopi sEbo. Turukie’ inapessu, padai tonangie’ lopi sebbok. (Menuruti hawa nafsu ibarat menumpang perahu bocor).
  • Artinya: Jika menuruti hawa nafsu, lenyaplah pengendalian diri. Oleh karena itu, setiap usaha yang dilandasi hawa nafsu, yang berlebihan bisa berakhir dengan kegagalan.
rEb siptoKo, mli siprep ; siruai emRE tE siruai no, mlilu sipkaiGE maiGEpi mupj. Rebba sipatokkong, mali siparappe’, sirui me’nre tessurui nok, malilusipakainge, maingeppi mupaja. (Rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti).
  • Artinya: Pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Hal itu akan akan tenwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.
pl aurgea, tEbek toGEeG tEcau meagea, tEsieaw siyulea. Pala uragae’, tebakke’ tongennge’ teccau mae’gae’, tessie’wa siyulae’. (Berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan).
  • Artinya: Tipu day, mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak akan hilang. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena akan ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.
troai tElE linoea, tElai epsonku ri msglea.
Taroi telleng linoe’, tellaing pe’sonaku ri masagalae’. (Biar dunia tenggelam, tak akan berubah keyakinanku kepada Tuhan).
  • Artinya: Apapun yang terjadi, keyakinan yang sudah dihayati kebenarannya tidak boleh bergeser, karena segala kesulitan di dunia ini hanyalah tantangan untuk menguji keimanan sescorang.
aj mupoloai aolon tauea.
Ajak mapoloi olona tauwe’. (Jangan memotong (mengambil) hak orang lain.
  • Artinya: Memperjuangkan kehidupan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan dengan kekerasan yaitu saling merampas rezeki orang lain.
nerko mealoko medec ri jm jmmu atGko ri bet lea. aj muaolai betl sigru gruea tutuGi betl mkEsieG tuPun.
Nare’kko mae’lokko made’ceng ri jama-jamammu, attanngakko ri bate’lak-e’. Ajak muolai bate’lak sigaru-garue’, tuttungngi bate’lak makessingnge’ tumpukna. (Kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya).
  • Artinya: Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tidak tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi dengan tujuan yang pasti dan jalan yang benar.
tuupuai n tEri tuRuGi n micw.
Tuppui naterri, turungngi name’cawa. (Mendaki ia menangis, menurun ia tertawaun).
  • Artinya: Setiap keadaan ada timbal baliknya. Ada dua hal yang silih berganti dalam kehidupan. Maka bersiaplah menghadapi dua kemungkinan itu. Jangan takabur (sombong) jika sedang merasakan kebahagiaan, karena nanti akan merasakan kesedihan juga. Demikian pula sebaliknya, jangan terlampau bersedih jika dirundung malang, karena dari situlah proses terjadinya kebahagiaan bakal dimulai.
mN mN muai ealomu tbolo bErE iaiymi npitoko mnu.
Manya manya mui ellokmu tabbollo berrek, iami napittokko manuk. (Berhati-hatilah dengan hasratmu, kelak tertumpah bagaikan beras lalu engkau dicotok ayam).
  • Artinya: Memperlihatkan hasrat yang berlebihan sama halnya nunjukkan kepribadian yang lemah. Dengan menampakkan kelemahan berarti membuka peluang bagi orang yang bermaksud jahat melaksanakan niatnya.
aiy medeceG mbua tsrm.
Ia de’ce’nnge’ mabuang tassanrama. (Kebaikan itu meski pun jatuh tersangkut jua).
  • Artinya: Kebaikan kadang tertutup oleh gelapnya keadaan. Akan tetapi suatu saat akan tampak dalam nurani manusia yang mencintai kebaikan.
siedec edecn ad edea riyolon aEK rimuRi. sijn ad eaK riyolo ed ri muRi. Side’ce’ng-de’ce’nna ada de’k-e’ riolona, engka rimumnri. Sijakna ada engka riolona de’k-e’ rimunri. (Sebaik-baiknya bicara ialah yang kurang komentar tetapi didukung oleh kenyataan. Seburuk-buruk bicara adalah yang banyak komentar tetapi tidak didukung oleh kenyataan).
  • Artinya: Sedikit bicara tetapi banyak kerja lebih baik daripada banyak bicara tetapi tidak bekerja.
auG tbkea ri subuea nerko noPoki aEso pjni baun.
Unga tabbakkae’ ri subue’ nare’kko nompokni essoe’ pajani baunna. (Kembang mekar di waktu subuh, di kala matahari terbit baunya pun hilang).
  • Artinya: Jangan langsung percaya atau gembira mendengar berita atau janji yang muluk-muluk, sebab berita tersebut mungkin saja tidak sesuai dengan kenyaataan.
ecec pon ekl ekl tEGn spu ri plE cpn. Cecceng Ponna, kella-kella tenngana, sapuripalek cappakna. (Serakah awalnya, tamak pertengahannya, licin tandas akhirnya).
  • Artinya: Sejauh keserakahan bertambah, sejauh itu pula menghanyutkan yang baik dan akan berakhir dengan kehancuran.
sd mpbti ad, ad mpbti gau, gau mpbti tau. Sadda mappabati' ada, ada mappabati' gau, gau’ mappabati' tau. (Bunyi mewujudkan kata, kata menandakan perbuatan, perbuatan menunjukkan manusia).
  • Artinya: Kedudukan dan peranan orang Bugis lebih ditentukan oleh perbuatan daripada nama yang bersangkutan. Dengan kata lain, kata dan perbuatan seseorang akan menentukan derajat nilai seseorang dalam masyarakat.

Iyya nanigesara’ ada' 'biyasana buttaya tammattikamo balloka, tanaikatonganngamo jukuka, annyalotongi ase’yo. (Jika dirusak adat kebiasaan negeri maka tuak berhenti menitik, ikan menghilang pula, dan padi pun tidak menjadi).
  • Artinya: Jika adat dilanggar berarti melanggar kehidupan manusia. Akibatnya bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh seluruh anggota masyarakat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam semesta.
pur bbr soPEku pur tKisi goliku aulEbirEni tElEeG nto wliea.
Pura babbara' sompekku, pura tangkisi' golikku, ulebbirenni tellennge’ nato'walie’.(Layarku sudah berkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali).
  • Artinya: Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca (mendahulukan pertimbangan yang matang). Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang, jangkar, serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping itu juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar.
alai eced riesesn aEKai mepedec sePyGi meagea ri esesn aEKai meag mksol
Alai cedde'e risesena engkai mappedeceng, sampeanngi maegae risesena engkai maega makkasolang.
(Ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan).
  • Artinya: Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan merupakan suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.
blC mnEmuai wrprmu aebena mnEmuai aiy kiy aj muplaoai modlmu aEREeG beg lbmu.
Balanca manemmui waramparammu, abbeneng manemmui, iyakiya aja' mupalaowi moodala'mu enrennge’ bagelabamu. (Boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk beristri, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu).
  • Artinya: Peringatan pada para pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan usahanya.
siri eami riaorow ri lino. Siri'e’ mi rionrowong ri-lino. (Hanya untuk siri'itu sajalah kita tinggal di dunia).
  • Artinya: Dalam pepatah ini ditekankan bahwa siri’ sebagai identitas sosial dan martabat pada orang Bugis, dan jika memiliki martabat itulah, hidup menjadi berarti.
adEea tEmek an tEmek apo.
Ade'e’ temmakke-anak' temmakke’-e’po.
(Adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu).
  • Artinya: Dalam menjalankan norma-norma adat tidak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran, maka harus dikenakan sanksi (hukumman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

Ka-antu jekkongan kammai batu nibuanga naung rilikua; na-antu lambu suka kammai bulo ammawanga ri je’ne’ka, nuassakangi poko’na ammumbai appa’na, nuasakangi appa’na ammumbai poko’na. (kecurangan itu sama dengan batu yang dibuang kedalam lubuk; sedangkan kejujuran laksana bambu yang terapung di air, engkau tekan pangkalnya maka ujungnya timbul, engkau tekan ujungnya maka pangkalnya timbul).
  • Artinya: Kecurangan mudah disembunyikan, namun kejujuran akan senantiasa tampak dan muncul ke permukaan.
mtulu pEerjo tEpEtu sirRE pdpi mpEtu iaiy.
Mattulu’ perejo te’pe’ttu siranreng, padapi mape’ettu iya. (Terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya)
  • Artinya: Ungkapan ini melambangkan eratnya persahabatan. Masing-masing saling mempererat dan memperkuat, sehingga tidak putus jalinannya. Apabila putus satu, maka semua putus.
naiy riysEeG pnw nw mpciGi riatin spai ri nwnan nloloGEGi sinin adea aEREeG gauea npoelai j aEREeG npoelai edec.
Naia riyasennge’ pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adae’ enrenge’ gau’e’ napolei’ ja’ enrenge’ napolei’ de’ceng.(Cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari samapai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan).
  • Artinya: Ungkapan ini menggambarkan posisi orang pandai di masyarakatnya.
aj mumtEbE ad ap aiytu adea meag bEtuwn muatutuaiwi lilmu ap iaiy lilea pewrE ewrE.
Aja' mumatebek ada, apak iyatu adae’ mae’ga bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilae’ pawere’-were’.(Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya.
Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris).
  • Artinya: Peringatan agar setiap orang selalu menjaga kata-kata yang diucapkan jangan sampai menyakiti hati orang lain.
aju mluruea mi riwl perw bol.
Aju malurue’mi riala parewa bola. (Hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah).
  • Artinya: Rumah sebagai perlambang dad pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sitat jujur yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.
duuw lalE tEPEdi ri yol aiynritu llEn psriea aEREeG llEn p golea.
Duwa laleng tempekding riola, iyanaritu lalenna passarie’ enrennge’ lalenna. Paggollae’. (Dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah).
  • Artinya: Jalan yang ditempuh penyadap enau tidak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran itu banyak tak diketahui orang.

Lapa nakulle’ taue’ mabbaina narekko naulle’ni magguli-lingiwi dapurenge’ we’kka pitu. (Apabila se orang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).
  • Artinya: Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok data, kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin sampai Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga harus memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.
ed nlbu aEsoea ri tEGn bitrea.
De’k nalabu essoe’ ri tenngana bitarae’. (Tak akan tenggelam matahari di tengah langit).
  • Artinya: Manusia tidak akan mati sebelum takdirnya sampai. Oleh karena itu, keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.
jgai wi blimu sisE mualitutuai rGEmu ewk sEpulo nsb rGEmu ritu bias mCji bli.
Jagaiwi balimmu siseng mualitutui rangemmu wekka seppulo nasaba rangemmu ritu biasa mancaji bali. (Jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan).
  • Artinya: Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, lawan menjadi bertambah dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.
lEbi ai cau caurEeG n pElorEeG. Lebbik-i cau-caurennge’ napellorennge’. (Lebih baik sering kalah daripada pengecut).
  • Artinya: Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan seorang pengecut, sama sekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.
mlai bukurup ri cauea mplib ri mej ri pGRoea.
Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’. (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan).
  • Artinya: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama halnya mati.
naiy tau mlEPuea mGuru mnai tau sogiea.
Naiya tau malempuk-e’ manguruk manak-i tau sugi-e. (Orang jujur sewarisan dengan rang kaya).
  • Artinya: Orang jujur tidak sutit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.
mess pG tEmess api mess api tE mess botorE. Masse’sa panga, temmase’sa api, masse’sa api temmas’esa botoreng. (Bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak barsisa penjudi).
  • Artinya: Sepintar-pintarnya pencuri, dia tidak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Akan tetapi sebesar-besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah dalam waktu singkat).
mau meag pbiesn nboGo po lopin etaw n lurE.
Mau mae’ga pabbise’na nabonngo ponglopinna te’a wa' nalureng. (Biar banyak pendayungnya, tetapi badoh juru mudinya takkan ku jadi penumpangnya).
  • Artinya: Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak ha , tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.
naiy acea riptopoki ejko agto aliri etyai mrEdu mpoloai.
Naiya accae ripatoppoki je’kko, aggato aliri, nare’kko te’yai maredduk, mapoloi.(Kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, lalu tidak tercerabut ia akan patah).
  • Artinya: Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).
nerko mealoko tikE esauw aolokolo spai betln. nerko del spai meagn betl tau.
Narekko mae’lokko tikkeng se’uwa olokolok sappak-i bate’lana. Narekko sappakko dalle’k sappak-i mae’gana bate’la tau. (Kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia).
Artinya: Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.